RAMBO
Sebelum menonton Film ini, aku sempat bercanda
dengan Mahe dan Gindah tentang cerita yang mungkin akan mirip
Nagabonar. Sempat kebayang cerita lucu dimana Rambo sudah tua dan punya
anak penerus yang mungkin saja bernama Rambi he..he.. Dan kemudian cerita akan diwarnai perdebatan definisi realitas antara bapak dengan anak. Siapa tahu…..
Ternyata,
tidak. Rambo yang diperankan Silvester Stalone ternyata tetaplah
menjadi seorang jagoan. Keren juga Stalonne, masih mampu menjadi
seorang jagoan walaupun sekarang setingnya adalah Burma/Myanmar. Dimana
Sang Hero, Rambo yang perkasa menjadi sosok sentral cerita Film sebagai
jagoan yang mampu memenangkan sebuah pertempuran ( bukan peperangan).
Ceritanya, John Rambo tinggal di daerah Vietnam yang berbatasan dengan Burma. Saat itu Burma berada dalam cengkeraman Junta Militer. Sepertinya Film ini memang mencoba mengangkat kekejaman Junta Militer Myanmar dan menjadikannya sebagai entitas yang dianggap busuk dan pecundang.
Cerita
berlanjut ketika ada sekelompok relawan kemanusiaan Kristen yang
diantaranya terdiri dari Dokter. Mereka membujuk John Rambo yang
menjadi tukang perahu itu mengatarkan mereka ke daerah konflik,
khususnya sekelompok pengikut Kristen yang menjadi sasaran para tentara
pemerintah. Dalam proses pembujukan itulah terkatakan satu ungkapan
John Rambo yang tambaknya kemudian menjadi tesis yang akan dibuktikan dalam cerita dan visualisasi Film ini : Jangan Bermimpi Membuat Perubahan kalau Tidak Punya Senjata.
Pendek cerita, sekelompok relawan tersebut kemudian diantar John Rambo, kemudian tertawan oleh Junta Militer Myanmar
dan kemudian terjadilah operasi pembebasan mereka. Dan diakhir cerita,
John Rambo sekali lagi menjadi pahlawan yang hampir mati.
Gambaran kekejaman Junta Militer Myanmar,
digabarkan dengan cukup vulgar dalam Film ini. Bagaimana para
pemberontak dibunuh dengan kejam, seperti dibantai di tengah sawah
ketika mereka sudah menjadi tawanan.
No comments:
Post a Comment